Surabaya, 26 September 2026 — Dalam peringatan September Hitam, KontraS Surabaya berkolaborasi dengan Bunuh Diri Revolt, kolektif street art Surabaya yang konsisten menjadikan seni visual sebagai medium ekspresi dan perlawanan. Kolaborasi ini mewujud dalam rangkaian kegiatan bertajuk “Black September Fest: Disobey Art Exhibition”, yang berlangsung selama lima hari, Sabtu, 26 September hingga Rabu, 30 September 2026. Kegiatan ini mempertemukan kerja advokasi Hak Asasi Manusia (HAM) dengan seni jalanan untuk merawat ingatan publik atas pelanggaran HAM berat dan kekerasan struktural yang hingga kini tak kunjung diselesaikan negara.
September Hitam bukan sekadar penanggalan. Ia lahir dari rekam jejak kejahatan kemanusiaan yang pernah dan terus terjadi sepanjang bulan September:
- Genosida 1965–1966;
- Peristiwa Tanjung Priok 1984;
- Tragedi Semanggi II 1999;
- Pembunuhan Pembela HAM Munir Said Thalib (2004);
- Pembunuhan Aktivis Lingkungan Salim Kancil (2015);
- Pembunuhan Pendeta Yeremia Zanambani (2020); hingga
- Gelombang Protes #ReformasiDikorupsi (2019) yang merenggut nyawa lima pemuda: Yusuf Kardawi, Immawan Randi (keduanya mahasiswa Universitas Halu Oleo), Maulana Suryadi, Akbar Alamsyah, dan Bagus Putra Mahendra.
- Razia Agustus: Penangkapan secara besar-besaran pascaaksi demonstrasi Agustus 2025
Seluruh peristiwa itu adalah mata rantai kekerasan yang tak pernah lepas dari peran, pembiaran, dan campur tangan negara. Peringatan September Hitam 2026 berlangsung ketika negara kian mencekam dan jauh dari komitmen menuntaskan pelanggaran HAM masa lalu. Situasi ini diperparah oleh perampasan ruang hidup, eskalasi konflik agraria, dan penggusuran yang merampas hak dasar warga di berbagai daerah. Pada saat yang sama, kekerasan aparatus dan impunitas TNI/Polri terus berlanjut, dengan dominasi institusi keamanan yang kian tak terbendung, terutama di bawah rezim Prabowo-Gibran. Penguasa juga secara sistematis memutarbalikkan sejarah, mengaburkan dan memutihkan jejak kejahatan masa lalu dari memori publik. Semua ini menegaskan bahwa kepastian hukum dan keadilan tak pernah berpihak pada rakyat kecil dan kelompok tertindas yang menolak menghamba pada kepentingan kekuasaan.


Di tengah situasi itu, Black September Fest: Disobey Art Exhibition menempatkan seni bukan sekadar karya estetis, melainkan jembatan ekspresi, dinding ingatan, dan alat perlawanan politik. Kolaborasi ini melibatkan jaringan komunitas yang melawan lewat berbagai medium. Bunuh Diri Revolt menghadirkan mural/street art dan Workshop Stencil sebagai ruang kreasi fisik perlawanan. Diary Photo Zine mengajak publik meretas media independen melalui Workshop Zine, menjadikannya saluran kritik terhadap pemerintah. Bedigasan Reborn menjadikan stand-up comedy satir sebagai panggung kritik atas kebijakan publik dan kondisi sosial-politik. Sintus Lalamove dan Sembilu melengkapinya dengan lantunan music folk perlawanan, menyuarakan kritik lewat petikan dan lirik yang menyempurnakan rangkaian kegiatan ini.



Selain pameran dan panggung seni, festival ini menghadirkan Kuratorial Tour & Talk, Artist Talk, dan ditutup dengan Diskusi Publik bertema “Menolak Lupa Kejahatan HAM dan Melawan Belenggu Impunitas: Melampaui Batasan Hukum, Menuju Gerakan Emansipatoris.” Rangkaian kegiatan ini adalah ruang penghormatan sekaligus ruang konsolidasi multipihak, dengan kolektif seniman dan kreatif sebagai alat untuk merawat ingatan dan membangkitkan gairah perlawanan antarkawan.


KontraS Surabaya dan Bunuh Diri Revolt menuntut negara menghentikan distorsi dan manipulasi sejarah, serta mengakui secara jujur dan terbuka seluruh kejahatan kemanusiaan yang melibatkan peran negara, baik di masa lalu maupun yang terjadi hingga kini. Penuntasan pelanggaran berat HAM dan penghentian impunitas harus diwujudkan melalui proses hukum yang adil, imparsial, dan akuntabel terhadap seluruh pelaku, baik aktor lapangan maupun pemegang komando, disertai penghentian keterlibatan militer di ruang-ruang sipil. Segala bentuk perampasan ruang hidup harus dihentikan, termasuk proyek pembangunan yang mengabaikan hak atas lingkungan hidup dan menindas rakyat kecil. Masyarakat sipil pun harus terus merawat ingatan dengan menjadikan seni, literasi, dan kebudayaan sebagai ruang konsolidasi dan perlawanan untuk melawan lupa serta menolak pembungkaman.



Melalui Black September Fest: Disobey Art Exhibition, kami berharap ruang seni, budaya, dan literasi terus menjadi ruang bersama untuk merawat ingatan, memperkuat solidaritas, dan membangun kesadaran kritis masyarakat terhadap berbagai bentuk kekerasan dan pelanggaran HAM. Negara harus segera memastikan pemulihan bagi korban dan keluarga korban, serta menghadirkan keadilan yang menjunjung martabat manusia. Masyarakat sipil berhak atas ruang yang aman dan bebas untuk berekspresi, berkumpul, bersuara, dan mengawal demokrasi tanpa rasa takut.


September Hitam tidak boleh berhenti sebagai agenda peringatan tahunan. Ia harus menjadi momentum untuk membangun ingatan kolektif yang terus hidup, agar kekerasan dan pelanggaran HAM tidak berulang, impunitas tidak diwariskan, dan perjuangan untuk keadilan, kebebasan, serta penghormatan HAM terus dirawat bersama.
Surabaya, 26 September 2026
KontraS Surabaya X Bunuh Diri Revolt







