Browse By

Malam Menyimak Munir, Merawat Ingatan

 Dilihat 690 Kali

Ingatan adalah hal yang rapuh. Seperti cahaya ia mengapung dalam ruang dan waktu yang penuh dijejali peristiwa. Tumpang tindih masuk dan keluar dalam memori. Banyak ingatan yang pergi, terlupa atau tergusur terinjak banyak peristiwa, tapi rekaman mengganjal pintu ingatan dan membuat kita bisa kembali ke lorong masa lalu, melihat apa  yang telah terjadi.

12 Tahun memperingati Munir, mengapa sinema –gambar hidup– yang dipilih untuk memperingatinya?

Alasan di atas adalah salah satunya. Alasan lainnya, karena gambar hidup selalu bisa berfungsi seperti mercusuar ingatan. Sinema memproyeksikan kerja-kerja kemanusiaan Munir dari masa lalu untuk generasi kini. Mengingatkan kita bahwa kerja-kerja kemanusiaannya belum selesai.

Munir dikenal sebagai seseorang yang memperjuangkan hak mereka yang lemah agar bebas dari keadaan dianiaya, dibungkam, atau dimatikan, tanpa memandang perbedaan agama, ras, dan keyakinan politik seseorang. Hal tersebut juga tercermin dari beragamnya partisipasi jaringan sahabat Munir dalam menguatkan ingatan. Ada sahabat-sahabat Munir dari kelompok sineas, seniman, komunitas literasi, jurnalis, mahasiswa, dosen, aktivis kajian, pengacara, pegiat kemanusiaan, dan banyak individu. Semua sepakat serentak untuk menggelar pekan merawat ingatan.

12 tahun kasus pembunuhan keji Munir terbengkalai. Sementara para pembuat film bergerak memilih subyek dan cerita, mencipta sebuah kenyataan yang hidup terproyeksi di dalam layar atau pada televisi adalah bagian dari misteri hidup itu sendiri. Dua belas tahun aktivis HAM Munir Said Thalib dibunuh, enam film dari enam sutradara membuat kita kembali yakin bahwa Munir tak pernah mati.

Bedah Film Dan Diskusi Malam Menyimak Munir

Bedah Film Dan Diskusi Malam Menyimak Munir

Menyimak Munir adalah menonton bersama enam film besutan dari enam sutradara: Riri Riza, Ratrikala Bhre, David O’shea & Lexy Rambadeta, Steve Pillar, Dandhy Dwi Laksono, serta Hariwi. Pemutaran dan diskusi dihelat di 23 daerah se-Indonesia: Jakarta, Batu, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Bandung, Medan, Banda Aceh, Jayapura, Ambon, Makassar, Lombok, Bali, Jombang, Sampang, Purwokerto, Bogor, Lampung, Pekanbaru, Padang, Palembang, Manado dan Bangka. Lewat film pula kita bisa mengambil insprasi, menghimpun semangat, meringkus komitmen dan meneguhkan nilai-nilai kemanusiaan dan perjuangan yang dirintis oleh pejuang HAM Munir.

Sahabat Munir kembali Merawat Ingatan selama sepekan sejak tanggal 4-11 September 2016. Hal ini dimaksudkan sebagai lawan tanding wacana dominan, menggusur proses pelupaan, dan merawat akal sehat. Mengingatkan tentang pembunuhan Munir belum membuka otak pembunuhan keji tersebut. Kejahatan ini bisa terjadi pada siapa saja. Pekan Merawat Ingatan merupakan wujud konkrit untuk membuat suara-suara Munir terus menggema.  Suara tentang keberanian. Suara tentang kebenaran. Suara untuk menuntut keadilan.

Di tengah kondisi kehidupan politik negara kita yang surreal seperti sekarang inilah, karya film memberi arti penting dan layak untuk disimak lebih dekat. Melalui film yang dibuat oleh enam sutradara ini kita bisa menangkap apa sejatinya prinsip hidup Munir? Siapa Munir? Kenapa dia begitu gigih membela orang tertindas? Bagaimana latar keluarganya? Apa arti menjadi pekerja kemanusiaan? Kenapa dia dibunuh? Mengungkap kebenaran adalah pintunya.

Saat ini, Komisi Informasi Pusat mesti berani membuka temuan Tim Pencari Fakta untuk kasus Munir yang dibentuk oleh Pemerintah SBY. Pemerintah Joko Widodo telah berjanji mengungkap otak pembunuhan Munir, pada saat pidato Peringatan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) se Dunia, di Istana Negara, Jakarta, 11 Desember 2015:

Kita semua ingin menghormati dan menegakkan Hak Asasi Manusia (HAM) bukan hanya karena HAM adalah amanah konstitusi yang harus kita laksanakan. Tapi kita menjunjung HAM karena kita ingin agar nilai-nilai kemanusiaan menjadi dasar hubungan antara pemerintah dengan rakyat. Bagaimana pemerintah dapat menjamin hak-hak politik, hak-hak ekonomi, hak-hak sosial dan hak-hak budaya. Bagaimana pemerintah dapat memberikan layanan pendidikan, layanan kesehatan dan juga meberikan jaminan perlindungan kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Harus diakui kadaan HAM di tanah air masih cukup banyak masalah yang harus kita selesaikan bersama. Penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu, penyelesaian konflik agraria, penghormatan terhadap hak masyarakat adat. Kemudian pemenuhan hak atas pendidikan dan kesehatan bagi seluruh masyarakat, pemenuhan hak-hak dasar bagi kelompok-kelompok terpinggirkan serta penyandang disabilitas, kelompok minoritas karena perbedaan etnis atau agama. Dan saya harap, seluruh jajaran pemerintahan baik di pusat maupun di daerah mempercepat upaya penyelesaian permasalah-permasalahan HAM tersebut secara baik.

(Dikutip dari http://setkab.go.id/sambutan-presiden-joko-widodo-pada-peringatan-hari-hak-asasi-manusia-ham-se-dunia-di-istana-negara-jakarta-11-desember-2015)

Dalam kesaksian Budi Santoso, mantan pejabat BIN, jelas ada upaya konspirasi menghabisi Munir. Muchdi Purwopranjono, Deputi Penggalangan BIN pernah menjadi terdakwa. Hendropriono, mantan kepala BIN juga diperiksa oleh kepolisian. Dari puluhan kali percakapan Pollycarpus dengan pejabat BIN, terdapat rencana pembunuhan Munir. Ketertutupan harus diakhiri. Konspirasi busuk mesti diungkap pemerintah.

Dari hal tersebut, kami: KontraS Surabaya, Dewan Kesenian Surabaya, Aji Surabaya dan Paguyuban Arek Suroboyo menuntut agar:

  1. Presiden Jokowi agar segera melaksanakan janji untuk menuntaskan kasus pembunuhan terhadap (Alm.) Munir Said Thalib.
  2. Komisi Informasi pusat agar segera membuka dokumen Tim Pencari Fakta.

 

Fatkhul Khoir
Koordinator Badan Pekerja KontraS Surabaya
081230593651